amerika aku benci kamu

  Pembantaian Massal dan Kejahatan Perang Amerika di Irak

COMES (Bagdad/QudsPress) � Kesepakatan gencatan senjata di Faluja dimulai sejak Ahad pagi (11/04) meski korban tewas mencapai 450 dan 1000 orang terluka. Politukus dan praktisi hukum Mesir menyatakan, apa yang terjadi di Irak adalah pembunuhan massal dan kejahatan perang. 

Sementara itu, kaum perlawanan mampu menghancurkan sebuah tank dan empat kendaraan militer Hammer Amerika, Sabtu pagi (10/04) di Ghazaliah, Ibu Kota Irak, Baghdad. Sejumlah saksi mata menyatakan, kaum perlawanan menyerang dengan roket. Mereka juga menyebutkan, heli tempur Amerika menghilang di udara Baghdad kecuali malam hari, sebab kaum perlawanan beberapa kali mampu menumbangkan heli-heli Amerika tersebut. bahkan sumber Irak menyebutkan, mereka mempu menjatuhkan 10 helitempur Amerika dalam pertempuran di Falujah sejak Ahad pekan lalu.  

Meski korban berjatuhan di Falujah mencapai 450 orang tewas dan sedikitnya 1000 luka-luka kesepakatan gencatan senjata telah dicapai. Namun, para pakar hukum dan politikus Mesir menyatakan, kini tidak ada gunanya membicarakan pelanggaran hukum yang dilakukan Amerika di Irak. Pasalnya, tegas mereka, yang terjadi di Irak adalah “pembersihan dan pembunuhan massal” serta “kejahatan perang” yang dilakukan Amerika. ini adalah perang yang tidak konstitusional. Hal ini sangat jelas terlihat di depan mata. Menurut mereka, seharusnya, negara-negara Arab bisa berdiri sendiri dan tidak mengharapkan terlalu banyak terhadap pengadilan internasional yang tidka diakui oleh Amerika sama sekali.

Kepada QudsPress para pakar dan ahli hukum itu menyatakan, seharusnya negara-negar Arab dan media masanya tidak lagi membicarakan konstitusi internasional dan tidak hanya menilai apa yang terjadi sebagai tindakan di luar konstitusi. Mereka menegaskan, seharusnya negara-negara Arab melihat perlawanan adalah solusinya.

Dr. Athif Al Banna, guru besar politik Universitas Al Azhar Kairo menyatakan, apa yang terjadi di Falujah dan kota-kota lain di Irak adalah jelas-jelas kejahatan perang. Sebab target pengemboman Amerika bukan daerah militer, namun daerah sipil yang terdiri dari anak-anak dan perempuan. Apa yang terjadi menurutnya, adalah blokade kota, pelarangan pengobatan secara medis terhadap korban atau penguburan korban tewas. Pembunuhan massal juga terlihat jelas dari pengeboman yang dilakukan F 16 Amerika terhadap kota-kota di Irak.

Ia menyatakan, masalah ini membutuhkan respon dan gerakan dunia internasional semua. Dari pejuang kebebasan dan HAM dan seharusnya mereka tidak tinggal diam di depan kejahatan ini. Sebab apa yang terjadi sejak setahun terakhir adalah perang ilegal. Sudah jelas tidak ada senjata pemusnah massal di Irak. Seandainya pun ada, maka Amerika tidak memiliki hak untuk menjadi polisi dunia. Yang memiliki senjata itu hanya Amerika dan ia tidak pernah memperoleh wewenang internasional dari DK PBB.

Al Banna menegaskan, Amerika adalah negara adi daya dan semena-mena. Ia membuang konstitusi internasional dan melanggar semua undang-undang internasional. Membicarakan ini tidak ada gunanya. Yang harus dilakukan adalah membahas sarana untuk membela diri. Sebab, sejak berdirinya Amerika memang ingin menghancurkan semua penduduk bumi. Pertanyaannya, kapan Amerika pernah menghormati konstitusi internasional?

Dunia internasional seharusnya yang bertanggung jawab secara moral dan tidak hanya membebankannya ke negara-negara Arab untuk membela diri.

Hafidl Sa’dah, Sekjen Oraganisasi HAM Mesir yang juga anggota Organisasi HAM Internasional menyatakan, sejak awal kondisi di Irak adalah kondisi penjajahan. Berdasarkan kesepakatan Jenewa, apa yang dilakukan Amerika denga membunuh dan mengebom perumahan penduduk adalah kejahatan perang.

Ia menegaskan, saat ini organisasi HAM Mesir dan internasional berupaya mengeluarkan pernyataan bersama mengecam kejahatan Amerika terhadap kaum sipil di Falujah dan di Irak secara umum. Mereka juga meminta Amerika menghentikan kejahatan ini segera dan meminta PBB melakukan perannya di sana sebagai ganti dari kekuatan penjajah hingga pemerintahan diserahkan ke rakyat Irak.

Perlawanan adalah solusinya

Kenapa? Dr. Nadia Mustafa, guru besar ilmu politik dan ketua pusat studi politik di fakultas ekonomi Kairo memberikan alasanya, perlawanan di Irak mampu menggagalkan proyek Amerika di Irak, meski ke depan masih sulit ditebak. Penjajahan di Irak sendiri tidak memiliki masa depan. Dr. Mustafa menysinyalir adanya koordinasi antara kekuatan Sunni dan Syiah di Irak. Ini akan mengancam eksistensi Amerika di Irak. Syiah dari awal memang ingin melakukan perlawanan bersenjata. Bahkan Faisal Muktadi Sodr tokoh Syiah yang paling radikal menjalin kerja sama dengan Sunni.

Sementara menurut Dr. Abdullah Al Ash’al, guru besar ilmu hukum internasional dan mantan asisten Menteri Luar Negeri Mesir menyatakan, apa yang terjadi di Irak adalah pembersihan entis atau kelompok tertentu. Amerika tidak lagi menjaga rakyat yang dijajah, tidak memberikan keamanan, tidak memberi makan, tidak menghormati hak-haknya berdasarkan keputusan DK PBB no 1511 September 2003. (AT Basyier)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: